Kisah Hidup Prabowo Subianto dari Tentara ke Politik

Kisah Hidup Prabowo Subianto dari Tentara ke Politik

Nama Prabowo Subianto saat ini tengah ramai dibicarakan masyarakat Indonesia. Sipa yang tidak mengenal sosok Prabowo, kiprah panjangnya yang banyak disoroti oleh selluruh masyarakat dan media melambungkan namanya hingga sekarang. Kiprah panjangnya mulai dari Mantan Danjen Kopassus, Panglima Kotrad, salah satu pendiri GULTOY (Detasemen Penanggulangan Teror), menjadi ketua umum Partai Gerindra, hingga menjadi calon Presiden Republik Indonesia.

Kiprah Prabowo sanagt menarik untuk dibahas, perjalan kisah hidup yang panjang banyak mengispirasi dan membuat orang kagum pada diri kesatrianya. Prabowo Subianto lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Prabowo adalah anak ketiga dari Sumitro Djojohadikusumo, orang besar yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan pada dua kabinet yang berbeda. Prabowo juga diketahui merupakan cucu dari Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI).

Cerita Prabowo di balik seragam loreng dimulai saat dirinya lulus dari Akademi Militer di Magelang pada tahun 1974. Baru dua tahun lulus, Prabowo yang bertugas di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) langsung ditunjuk sebagai komandan pleton yang memerangi kelompok separatis di Timor Timur.

Karir dan prestasi Prabowo Subianto

Tidak lama setelah diangkat menjadi komandan pleton Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), di tahun 1995, Prabowo diangkat sebagai komandan jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal. Berbagai prestasi gemilang telah diraih Prabowo. Salah satunya adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma. Saat itu, ia memimpin timnya membebaskan regu peneliti ekspedisi Lorentz 95 yang diculik Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat jadi Panglima Kostrad. Namun, hanya dua bulan setelahnya, pecahlah kerusuhan Mei 1998. Soeharto, yang tak lain adalah mertua Prabowo, mundur dari kursi Presiden.Setelah itu, menyusul berbagai dinamika politik dan keamanan yang terjadi, Prabowo diadili dalam sebuah Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Iapun lantas diberhentikan dari dinas keprajuritan.

Selepas kariernya di militer, Prabowo menghabiskan sebagian besar waktunya di Yordania dan beberapa negara di Eropa. Kemudian, Prabowo kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia bisnis. Selain berbisnis dan berpolitik, Prabowo juga pernah aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan. Salah satunya adalah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia juga pernah menjadi ketua umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia. Kekinian, ia aktif di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai ketua umum.

Bisnis Prabowo mulai dari kertas hingga batu bara

Mengikuti jejak sang adik, Hashim Djojokusumo, Prabowo melirik dunia usaha. Ia memiliki dua puluh tujuh perusahaan di Indonesia dan luar negeri yang bergerak di berbagai bidang.

Selain pabrik kertas Kertas Nusantara yang dibelinya dari pengusaha Bob Hasan, ada juga bisnis perkebunan dan pertambangan. Berdasarkan laporan harta kekayaan pejabat negara (LHKPN) terbaru yang disampaikan Prabowo kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jelang Pilpres, tercatat nilai kekayaannya sebesar Rp 1,9 triliun.

Hartanya ini termasuk tanah dan bangunan di sejumlah tempat senilai total Rp 230.443.030.000. Kemudian, ia juga diketahui memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp 1.432.500.000 dan harta bergerak lainnya senilai Rp 16.418.227.000.

Prabowo juga orang yang melek investasi. Seperti kebanyakan politisi atau pejabat pemerintahan pada umumnya, Prabowo senang berinvestasi dalam bentuk surat berharga. Total nilai surat berharga yang dimiliki Prabowo diketahui mencapai Rp 1.701.879.000.000. Ia juga memiliki kas dan setara kas Rp 1.840.736.659.

Kekayaan Prabowo masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kekayaan pendampingnya, Sandiaga Uno. Salah satu pemilik grup usaha PT Saratoga Investama Sedaya itu diketahui punya kekayaan mencapai Rp 5.099.960.524.965.

Setelah menekuni karier di dunia bisnis, pada 2004 Prabowo pun memasuki kancah perpolitikan nasional. Dia mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar lewat Konvesi Capres Golkar 2004. Meski lolos sampai putaran akhir, akhirnya Prabowo kandas di tengah jalan, kalah oleh pesaingnya Wiranto.

Prabowo kembali melanjutkan karier politiknya dengan mendirikan Partai Gerindra pada 2008 silam dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Setahun setelahnya dia kembali meramaikan kontestasi Pemilihan Presiden sebagai cawapres pasangan dari Megawati Soekarnoputri. Pasangan Megawati-Prabowo gagal dalam Pilpres 2009.

Lima tahun setelahnya Prabowo kembali ikut sebagai peserta Pemilihan Presiden berpasangan dengan Hatta Radjasa pada 2014. Namun, dia kalah dari pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Prabowo kembali mencoba peruntungannya di 2019 dan berpasangan dengan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno melawan seteru lamanya Jokowi yang kali ini berpasangan dengan Ma’ruf Amin. Prabowo kembali kalah.

Namun tak berhenti disitu, setelah Pilkada usai hal mengejutkan terjadi. Presiden Joko Widodo tiba-tiba saja mengundang Prabowo ke Istana negara dan menunjuk Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu menjadi Menteri Pertahanan, dan bergabung kedalam Kabinet Indonesia Hebat. Hal ini memang sangat mengejutkan masyarakat Indonesia, seperti diketahui sebelumnya, keduanya adalah lawan namun kini telah menjadi kawan.